MENJELANG HILANG

Pipa itu membelah jalan kecil sepanjang 2 KM di Dusun Janganasem, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Pipa yang diperuntukkan bagi distribusi gas yang dikelola oleh Pertamina bagi pabrik-pabrik yang berada di wilayah Pasuruan, ditanam tak lebih dari 5 meter di depan rumah para warga. Bagaimana para warga tidak uring-uringan dan protes, pihak PT. PGN Tbk. saja tidak pernah mensosialisasikan dampak-dampak negatif dari proyek tersebut – selain hanya ilusi kebaikan yang sama sekali tidak dapat dirasakan oleh warga.

Proyek pipanisasi ini mulai dicetuskan pada April 2008, yang rencana awalnya membelah 5 desa: Desa Permisan, Desa Tambak kalisongo, Desa Balong Tani, Desa Jemirahan, dan Desa Trompoasri Kecamatan Jabon – tetangga Kecamatan Porong dan Tanggulangin di mana 13.000 kepala keluarga harus menderita kehilangan rumah, sejarah, dan harta benda akibat luapan lumpur panas Lapindo. Dusun Janganasem, yang merupakan bagian dari Kelurahan Trompoasri sama sekali tidak dilirik. Pada kenyataannya, beberapa bulan lalu, proyek ini mengambil tumbal para warga Dusun Janganasem, yang mulai kini di dalam hidup mereka telah ditanamkan ketakutan dan rasa was-was akan adanya kebocoran maupun resiko-resiko lainnya dari proyek pipanisasi ini.

PT. PGN Tbk. juga sama sekali tidak mensosialisasikan ganti-rugi bagi para warga. Seolah manusia-manusia yang tinggal di dusun tersebut merupakan properti yang bisa seenaknya ditumbalkan dan diam. Rencana pipanisasi awalnya ditolak oleh 70 persen dari 438 kepala keluarga yang tinggal di sana. Dalam perjalanannya, PT. PGN Tbk. melakukan intimidasi dari yang implisit sampai yang eksplisit. Politik uang juga mulai bermain. Para warga yang menolak proyek ini diberi uang Rp. 250.000 agar diam dan menerima. Tak hanya itu, pihak PT. PGN Tbk. yang berkolaborasi dengan pemerintah (dari Bupati sampai Camat, dari polisi sampai tentara) juga memalsukan data. Mereka mengklaim 600an kepala keluarga telah menyepakati proyek ini dan karenanya mereka yang tetap menolak proyek ini tidak diindahkan sama sekali. Sekali lagi, eksistensi negara dan korporasi adalah menghisap dan menghancurkan masyarakat – merekalah krisis itu sendiri.

Pembangunan proyek ini sendiri tidak kurang dari melecehkan kemanusiaan. Mereka bekerja dari pukul 08.00 sampai pukul 04.00 dinihari. Tentu saja aktifitas ini meresahkan dan mengganggu para warga yang butuh istirahat. Di tengah dunia di mana kompetisi dan hukum jual-beli berkuasa, kerja upahan untuk bertahan hidup adalah keharusan. Para warga umumnya adalah para petani dan pekerja pabrik, yang dari pagi sampai senja menjelang harus menghabiskan tenaga dengan bekerja. Dengan aktifitas yang cukup melelahkan tersebut mereka masih harus diperas lagi untuk tidak dapat beristirahat dengan tenang akibat aktifitas penyambungan pipa, pengelasan, maupun suara bising dari eskavator. Bayangkan juga bagaimana perasaan para bayi dan anak-anak yang paginya harus bersekolah.

Tak sekali para warga melaporkan PT. PGN Tbk. ke pihak-pihak pemerintah, dari birokrasi terkecil seperti Kecamatan, Bupati, sampai Kapolres Sidoarjo. Tapi seperti yang telah diketahui dalam rahasia umum, pihak-pihak tersebut tak pernah mengambil tindakan apa pun, selain hanya melindungi korporasi karena mereka pun memiliki kepentingan untuk menghancurkan masyarakat. Aksi langsung yang spontan sampai aksi blokade pun telah dilakukan oleh para warga yang mayoritasnya kaum perempuan. Terakkhir, aksi blokade untuk menghentikan aktifitas pipanisasi yang dilakukan pada tanggal 04 Juni 09, yang disingkirkan dengan paksa oleh tentara dibantu polisi yang memerkan alat kekerasan modern: senjata api laras panjang. Kaum perempuan yang paling banyak dalam komposisi perlawanan ini pun dibuat takut. Tak sedikit juga yang diseret menjauh dari lokasi agar proyek ini tetap berlangsung. Salah seorang anggota divisi keamanan PT. PGN Tbk. yang tanggungjawabnya menyingkirkan penolakan proyek ini sempat mengancam para warga yang menolak. Orang ini pun dengan bangganya mengaku bahwa dirinya adalah anggota Koppasus. Alat kekerasan memang tak pernah netral.

Proyek pipanisasi ini merupakan pemindahan jalur pipa dari Desa Renokenongo yang meledak akibat terendam lumpur panas Lapindo pada November 06 lalu. Berangkat dari pengalaman itulah para warga Dusun Janganasem menolak pipa gas memasuki wilayah mereka, apalagi mengingat pipa tersebut ditanam di tengah pemukiman padat warga. Pengerjaan pipa tersebut pun sepertinya jauh dari standar keamanan yang ketat. Tak jarang sambungan pipa yang dalamnya kurang dari 2 meter tersebut tampak bengkok. Belum lagi pengelasannya yang terlihat asal-asalan menguber setoran borongan.

Kini, tinggal 200an meter pipa tersebut selesai ditanam. Para warga Dusun Janganasem masih belum kehilangan semangat meski banyak teman-teman mereka yang telah dibeli dan pro-pipanisasi. Dengan kekuatan yang tersisa dari kurang lebih 20 orang, yang banyak kaum perempuannya, mereka akan terus memaksimalkan kekuatan mereka untuk menolak proyek pipanisasi ini, setidaknya untuk memberi penghormatan bagi kemanusiaan mereka yang masih percaya dunia tanpa industri – beserta segala ilusi dan penghancuran-penghancuran yang menyertainya. Mari saling bersolidaritas.

Panjangumur perjuangan masyarakat yang menolak jadi korban. Panjangumur perjuangan masyarakat anti-korporasi.

p/s: jika kawan-kawan sekalian merasa menjadi bagian dari perjuangan ini, kontak teman kami Sdr. Fadholly untuk menyampaikan dukungan dan semangat lewat nomor handphone: 081 231 571 800

convert this post to pdf.

We are Back!

Setelah bergumul dengan banyaknya file2 diserver, proses backup dan restore database, mengembalikan user account yang (ternyata) hilang, memilah kembali beberapa plugins wordpress yang dirasa masih dibutuhkan untuk fitur Anarch[Oi]!…akhirnya kini Anarch[Oi]! telah rampung 250% dari masa-masa berdarahnya…

Gw juga udah coba akses blog ini secara keseluruhan dari beberapa warnet didunia (halah!!!) untuk mengetes performa Anarch[Oi]! disana…hasilnya, sepertinya Anarch[Oi]! sudah NORMAL gak GILA lagi kayak kemaren.

Semua user yang merasa udah pernah mendaftar…tetep dapat menikmati 100% semua fitur disini, tulisan yang pernah dibuat oleh member juga 100% masih menjadi milik penulisnya…dan satu lagi semua rules yang pernah berlaku disini…juga masih berlaku :D yaitu “kalo emang gak ada makhluk dan alam yang terluka…maka…abaikan saja aturan mainnya!!!”

Solidaritas,

Anarchy, Love and PUNX…

convert this post to pdf.

Problem di anarchoi.gudbug.com

Dalam beberapa minggu ini banyak sekali yang mengeluhkan susahnya mengakses anarchoi.gudbug.com. Keluar error, loading lambat, dsb.

Parahnya lagi, bukan hanya dari sisi front-end (halaman muka) saja masalah ini terjadi, dari sisi back-end (panel administratif blog) saya mengalami masalah yang jauh lebih rumit lagi. Selain loading yang lambat, berbagai fungsi panel administratif bahkan tidak bisa diakses sama sekali.

Oleh karena itu, saat ini saya sedang mengupayakan untuk mengembalikan Anarch[Oi]! seperti semula. So…mungkin dalam beberapa hari ini, Anarch[Oi]! memang benar2 akan sulit diakses. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya!

Salam Bebas!

convert this post to pdf.

Satu Bumi - Sama, Korban Kapitalisme

Redefinisi Kapitalisme

Tentu kawan–kawan tahu betul apa itu sistem iblis kapitalisme, buatan londo (dengan tidak mengotakan warna kulit). Ya, mari kita sama–sama mendefinisikan ulang hakiki kapitalisme yang sejauh ini ia berhasil membuat kita ogah berpikir tentangnya sekaligus seolah memberi rasa aman bagi kebanyakan umat manusia.

Kapitalisme adalah sebuah sistem global jahat yang diaktori segelintir orang pemilik modal besar. Tidak sukar membayangkannya. Perumpamaannya seperti ini, ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang.

Ia kemudian membentuk lingkaran setan yang rapat sehingga orang–orang di dalamnya sulit keluar karena seolah dimanjakan (padahal diperbudak) segelintir pemilik modal.

Ia melegitimasi penghisapan manusia atas manusia lain karena hanya cara tersebut yang ampuh mempertahankan eksistensinya.

Ia pintar, cerdas, tapi satu hal yang dapat menghancurkannya, ia licik dan culas.

Kepintarannya dapat dilihat dari bagaimana ia berperan sebagai tuhan ketika hamba mengemis, meminta kepadanya karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Ya, mari kita masuk dalam lingkup ekonomi kapitalisme. Kasarnya seperti ini, daripada dapur kosong, tidak berasap, akhirnya hamba menuhankannya sembari bersabar dan berharap hari esok jauh lebih baik, padahal itu semua nihil jikalau kawan–kawan tidak frontal melawannya.

Kelicikan Humanisme Kapitalisme

Lebih jauh, konsep ekonomi tersebut melahirkan kelas–kelas sosial dalam masyarakat atau pengotakan status manusia. Dikotomi si kaya dan si miskin adalah manifestasinya.

Tidak berhenti di sini. Ironis ketika percabangan tersebut tidak lagi berperikemanusiaan. Yang kaya semakin merajalela, yang miskin semakin menjerit.

Kawan–kawan tahu bahwa idealnya kondisi tersebut dapat memunculkan kedermawanan. Ingat ! Pilantropis murni tanpa embel-embel bukanlah seorang kapitalis, walaupun kebanyakan orang menganggap mereka kapitalis. Ia tahu betul ketidakseimbangan ajaran kapitalisme dan kemudian memilih menjadi pilantropis.

Ia-kapitalisme melegalkan penghisapan yang dilakukan si kaya atas si miskin (baca: perbudakan). Sungguh sempit humanisme yang diartikulasikan kapitalisme. Bahkan perbudakan tersebut seolah dikondisikan terjadi dan bersifat tidak memaksa. Mengapa hal ini bisa terjadi ?

Kenyamanan semu perbudakan dalam lingkaran setan dapat menjadi sebuah jawaban.

Oleh karena itu, marilah sama-sama matangkan idealisme untuk keluar dari lingkaran tersebut walaupun terasa berat, lebih khusus bagi kapitalis muda mapan yang sudah merasa nyaman.

Kapitalisasi Pendidikan

Kapitalisme tidak segan–segan melebarkan sayap di dunia pendidikan, tentu dengan idealismenya bahwa kepemilikan modal adalah segalanya.

Ia berhasil mendisfungsikan esensi pendidikan, mensubstitusi ruang kelas menjadi sebuah perusahaan.

Bagaimana tidak ? Kawan-kawan dapat melihat kondisi saat ini, yang bersekolah hanya yang mampu membayar, bagaimana dengan yang ingin sekolah tetapi tidak mampu membayar ? Kenyataan di lapangan, mereka tidak dapat menikmati bahkan sekedar untuk mencicipi suasana ruang kelas.

Ya, itu tadi sekelumit tentang pra-ruang kelas. Sekarang bagaimana dengan yang sedang menikmati ruang kelas ?

Aura intelektualisme pun didistorsi menjadi sebuah rutinitas formalitas berbuah kemalasan kontinu. Memang hal tersebut merupakan pilihan masing-masing individu. Tetapi penting diingat ! Jikalau ruang kelas masih dipenuhi perasaan dan aktivitas yang “salah”, adalah mimpi di siang bolong melahirkan individu-individu berkualitas unggul. Akhirnya, peserta didik hanya mencari nilai tetapi tidak lagi memikirkan, memanifestasikan apalagi mensyukuri arti sebuah proses.

Lanjut dengan pascaruang kelas. Walhasil, lulusan ruang kelas pencari nilai akhir akan berpenyakit mental bahkan cenderung amoral. Di kemudian hari mereka enggan berpikir dan berusaha. Pragmatisme sempit akan melekat di masing-masing individu dengan meniadakan nilai-nilai murni yang dianugrahi di dalam diri. Korupsi adalah salah satu contoh sederhana.

Sungguh, hal-hal tersebut yang diinginkan kapitalisme. Sebuah bahan perenungan perihal agenda busuk kapitalisme.

Kontinuitas Pergerakan

Jadi, pergerakan radikal, frontal tanpa melupakan hal–hal fundamental adalah syarat mutlak menghancurkan eksistensinya-kapitalisme.

Aksi kolektif cerdas pemogokan kerja yang dilakukan kawan-kawan pekerja secara besar–besaran adalah salah satu cara membuatnya kebakaran jenggot walaupun tak sampai membuatnya mati.

Perlu sebuah kontinuitas sabar sembari melakukan pengecekan ulang terhadap infiltrasi yang dilakukan kapitalis dalam pergerakan (hal ini sangat penting demi menjaga kemurnian cita–cita pergerakan).

Mengapa pergerakan harus bersifat kolektif, cerdas, tulus, dan murni ? Ya, karena jikalau dilakukan tanpa konsep matang, anorganisir akan melahirkan pergerakan bersifat emosional saja, kemudian mengonsekuensikan sebuah stagnasi pergerakan yang tidak diharapkan.

Mari kawan, singsingkan lengan baju, kencangkan ikat pinggang dan jangan lupa rapatkan barisan !!!

Ingat ! Pergerakan emosional terorganisir tidak lebih baik ketimbang pergerakan cerdas terkonsep.

Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal-hal kecil, dan dimulai saat ini !!!

Ayo, tunggu apa lagi !!! Bangun dari tidur panjang !!! Wujudkan impian !!! Bergerak !!

convert this post to pdf.

Negeri Kaya Tapi Miskin

Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin menjerit. Mungkin kalimat tersebut dapat menggambarkan keadaan sesungguhnya di negeri kita, Indonesia. Dunia menganggap Indonesia adalah negara berkembang atau lebih kasarnya negara miskin. Persepsi tersebut setengah benar dan setengah salah. Benar ketika banyak orang di Indonesia hidup di garis kemiskinan dan bahkan di bawah garis kemiskinan. Sementara persepsi tersebut dikatakan salah bila dilihat dari sudut pandang lain. Banyak orang kaya, bisnis perumahan elit merajalela, pengusaha kaya yang sarat dengan modal tersenyum manis melihat bisnisnya berkembang pesat di atas penderitaan pengusaha kecil yang berpaham “ hidup enggan mati tak mau “. Hal – hal tersebut sudah bisa menggambarkan bahwa Indonesia negeri yang kaya.

Sekarang pertanyaannya adalah mengapa rakyat semakin susah ?, mengapa rakyat semakin menjerit ? Jawabannya bisa beragam. Salah satunya adalah rakyat sulit mendapatkan lapangan pekerjaan. Kita ketahui bersama bahwa lapangan kerja di Indonesia atau lebih tepat di Jakarta sudah semakin menyempit. Hal tersebut dikarenakan Jakarta masih menjadi surga bagi pencari pekerjaan dari seluruh penjuru nusantara. Ironis ketika semangat mencari pekerjaan tidak dibarengi dengan kemampuan memadai. Sebuah konsekuensi logis adalah pengangguran menjamur di mana – mana.

Penderitaan rakyat semakin sempurna ketika pemerintah seenak udelnya menaikkan harga bahan kebutuhan pokok dan harga bahan bakar. Hal tersebut semakin mengeratkan cekikan di leher rakyat.

Rakyat semakin susah jelas karena pemerintah tidak mengerti dan mengurusi rakyatnya dengan baik. Lihat saja saudara kita di Yahukimo yang kelaparan masal. Padahal di Papua kaya sumber daya alam. Kelihatannya saudara kita di Papua hanya berhak menjadi tamu di rumahnya sendiri. Hal tersebut tidak perlu terjadi apabila pemerintah tegas, tidak mau didikte pihak asing yang mengeruk sumber daya alam melimpah di Papua dan dibawa pulang ke negara mereka.

Apa yang Salah ?

Rakyat semakin menderita jelas karena pemerintah salah urus. Banyak program pemerintah yang salah sasaran. Pemerintah hanya menyisakan setengah hatinya untuk rakyat. Walhasil, rakyat semakin menjerit karena banyak masalah yang harus mereka hadapi dan selesaikan.

Banyak program pemerintah yang bertujuan meringankan beban rakyat justru menambah berat beban yang harus dipikul rakyat. Operasi pasar yang dilakukan pemerintah banyak yang salah sasaran dan terbukti tidak ampuh menurunkan harga bahan kebutuhan pokok. Bantuan Langsung Tunai yang diperuntukkan bagi rakyat yang benar – benar miskin justru diterima ibu gemuk yang mengendarai motor dengan kalung emas menggantung di lehernya. Sungguh ironis mendengarnya bukan…? Inilah Indonesia… Begitupula dengan program konversi minyak tanah ke gas. Tabung gas untuk rakyat miskin diterima dengan senang hati oleh keluarga berkecukupan ketika rakyat yang benar – benar membutuhkan sulit mendapatkannya.

Jumlah tenaga tidak terdidik yang banyak juga menjadi kesalahan fatal dalam sebuah negara. Banyak rakyat Indonesia yang tidak sempat menyicipi bangku sekolah penuh selama 9 tahun, seperti program yang dicanangkan pemerintah. Hal tersebut jelas menjadi faktor utama pengangguran di Indonesia. Banyak dari ratusan juta rakyat Indonesia hanya bisa sekolah sampai tahap SD, bahkan tidak bisa sekolah sama sekali karena kekurangan biaya. Kita tahu bahwa negara Indonesia masih mewajibkan rakyatnya membayar untuk mendapatkan pendidikan di bangku sekolah yang seharusnya hal tersebut merupakan hak bagi rakyat Indonesia dan kewajiban pemerintah untuk membiayainya.

Solusi

Semua masalah pasti ada solusi. Kita tidak perlu takut, karena Allah S.W.T memberikan masalah satu paket beserta jalan keluarnya. Semangat inilah yang harus kita junjung tinggi untuk membebaskan rakyat dari belenggu kemiskinan dan ketidakberdayaan.

Reasumsi saya, ada banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyenangkan hati rakyat. Pertama, pemerintah harus benar – benar tulus turun ke bawah sembari menghilangkan mental – mental pragmatis sempit. Kedua, pemerintah harus memperbanyak lahan pekerjaan untuk rakyat yang semakin susah. Ketiga, ini adalah faktor penentu kemajuan rakyat. Pemerintah harus menyekolahkan rakyat sampai ke jenjang SMA atau perguruan tinggi. Dananya bisa didapat dari pajak yang dikelola secara baik dan bijaksana. Keempat, pemerintah harus berusaha membebaskan biaya perawatan di rumahsakit untuk rakyat miskin yang benar – benar membutuhkan, jangan lagi salah sasaran. Kelima, jangan lagi ada kecemburuan seperti saudara kita di Papua. Pemerintah harus tegas menasionalisasikan perusahaan milik negara untuk kepentingan rakyat umum. Keenam, perlahan, sedikit demi sedikit kurangi ketergantungan dengan pihak asing. Giatkan sektor perekonomian lokal agar dapat memenuhi kebutuhan rakyat tanpa tekanan pihak asing. Dan akhir tidak terakhir, pemerintah harus menjadi suri tauladan yang baik bagi rakyat. Meliputi hal mental, gaya hidup, kejujuran, dan terutama akhlak yang mulia.

“ Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tidak mau mengubah nasibnya sendiri “.

( sebuah persembahan untuk apa yang dinamakan indonesia dari seorang di seberang sana ).

convert this post to pdf.

Anomali Ruang Kelas

” Pendidikan… bukanlah perusahaan yang orientasinya uang… Pendidikan… bukanlah formalitas yang penuh dengan kekosongan “.

Tersebut di atas adalah potongan lirik lagu Marjinal yang berjudul ” Aku Mau Sekolah Gratis “. Jelas kutipan tersebut menggambarkan wajah bulan dunia pendidikan Indonesia.

Institusi sekolah tidak lagi menjadi agen pencari bakat, pengembang potensi, dan melahirkan calon - calon pemimpin berakhlak mulia. Kini, ia hanya sebuah korporasi yang memikirkan bagaimana menghasilkan keuntungan besar tanpa peningkatan kualitas internal. Kenyataan di lapangan, ia hanya menjadi tempat menghabiskan waktu anak didik tanpa memberi makna positif.

Lebih parah adalah kini ia kosong melompong walaupun ada terlihat aktivitas berjalan di sana. Kalau ia sudah seperti ini, adalah mimpi siang bolong ketika Anda yakin berpikir tentang keberadaan sebuah bangsa bermartabat.

Akhir - akhir ini,  media massa sedang senang menjual berita perilaku ganjil warga ruang kelas ( semoga konsumen, pirsawan tidak kecanduan berita yang dijual ), seperti kekerasan geng, video mesum, aksi amoral memalukan berkedok senioritas, dan hal lain yang berkaitan. Bahkan pendidik tak sungkan melakukan aksi serupa.

Sebuah pertanyaan adalah apakah pantas perilaku - perilaku tersebut mensubstitusi dan kemudian mencitrakan definisi sejati sekolah atau aktivitas pendidikan, lebih khusus di Indonesia ? Jawabannya mudah, tidak pantas, sungguh tidak pantas.

Jelas pemerintah telah gagal mendefinisikan sebuah sistem pendidikan yang membangun, merdeka, pelopor, visioner, bukan sekedar rutinitas formalitas, dan berakhlak mulia.

Sebuah harapan - harapan positif adalah ruang kelas ramai seperti pasar ( positif ), papan tulis kotor ( positif ), buku robek ( positif ), warga ruang kelas saling bertukar ilmu ( positif ), warga ruang kelas tidak menantikan jam istirahat dan pulang ( positif ), dan warga ruang kelas saling menasehati dalam kebaikan.

Ketika harapan - harapan tersebut terwujud, adalah benar ketika Anda berpikir tentang keberadaan sebuah bangsa bermartabat.

Untuk kesekian kali, ini pekerjaan rumah kita bersama.

convert this post to pdf.

Anarki, Anarkis, Anarkisme dan Anarkistik

Bulan ini, istilah anarki dan anarkis menjadi suatu istilah yang “menonjol” di banyak media massa. Penulis memperhatikan bahwa sebagian besar media massa itu, telah menggeserkan makna dalam penggunaan kata anarki dan anarkis. Yah, tulisan ini sekadar mengingatkan kembali makna sebenarnya dari kata anarki dan kata-kata derivatnya.

Cobalah membuka beberapa kamus, seperti kamus Oxford, Kamus Besar Bahasa Indonesia, berbagai kamus Inggris-Indonesia, Kamus Tesaurus dan lain-lain. Maka kita akan menemukan makna kata-kata (anarki dan derivatnya ini) sebagai berikut:

Anarki (dari kata anarchy), artinya ialah suatu keadaan dimana  tidak ada  kontrol kekuasaan atau hukum atau ketiadaan pemerintah/penguasa.

Sedangkan kata anarkis bermakna orang (anarkis=kata benda/noun, jadi bukan kata sifat) sebagai terjemahan dari kata anarchist, yang artinya penganut faham anarkisme.

Kemudian ada kata anarkik (dari kata anarchic) yang bermakna kurang lebih tindakan atau perilaku dari kaum anarkis.

Selanjutnya ada kata anarkisme (dari anarchism) yang bermakna faham atau ide atau ajaran tentang peniadaan/pembatalan kontrol kekuasaan pada masyarakat/negara, yang oleh kaum anarkis dicitakan untuk mengganti sistem ini dengan sustu sistem voluntir/kesukarelaan, atau faham akan sistem masyarakat berbasis kooperasi.

Sedangkan makna anarkistik, adalah sifat/kondisi atau situasi yang ingin diciptakan oleh faham anarkisme.

JADI, jika di media massa disebutkan istilah demontrasi anarkis, ini bermakna sebuah demontrasi yang dilakukan para anarkis atau para penganut faham anarkisme (sekali lagi, kata anarkis bukan kata sifat, tetapi kata benda/noun).

Jika yang dimaksudkan oleh beberapa media massa adalah demontrasi yang bersifat anarki, maka seharusnya kata yang digunakan adalah anarkistik (anarkistik = bersifat anarki, kata sifat/adjective).

Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, arti anarki (noun/kata benda) adalah kehuru-haraan, kekacauan, kerusuhan, keruwetan, dan pemberontakan. Sedangkan arti kata anarkis (noun/kata benda) adalah pemberontak, pengacau, perusuh (jadi anarkis=menunjuk pada orangnya).

Sebenarnya, kesalahan dalam penggunaan kata semacam ini, juga sering kita lakukan dalam istilah/kata optimis dan optimistik. Sering kita tidak mengira bahwa kata/istilah optimis = kata benda/noun, yakni menunjuk pada subjeknya (orangnya). Sedangkan untuk menunjukkan sifatnya, dipakailah kata/istilah optimistik (terjemahan dari optimistic).

Sumber : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=13065

convert this post to pdf.

Telah terbit “Perang Melawan Negara”

perangmelawannegara

Telah terbit buku berjudul “Perang Melawan Negara - Anarkisme dalam Pemikiran Gilles Deleuze dan Max Stirner”, sebuah terjemahan dari karya Saul Newman yang memiliki judul asli “War on the State: Stirner’s and Deleuze’s Anarchism”.

Karya dengan 61 halaman ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh Tim Media Kontinum, dapat dibeli dengan harga Rp.10.000. Untuk pemesanan, bisa dilakukan langsung dengan mengontak Tim Media Kontinum melalui email ke kontinum@yahoo.com.

convert this post to pdf.

A global mayday call

To All Those Who Fight 4: Anarchy, Autonomy, Ecology, Queerness

To all media activists, creative workers, radical artists, union organizers, immigrant and precarious youth

In 2009, as millions are made unemployed by stupidity and greed, we call onto all insurgent people and networks out there to unite on the 1st of May for a global mayday against financial capitalism and state repression, and for social redistribution and self-emancipation.


MAYDAY, MAYDAY, MAYDAY, THE FIRST OF MAY WE’LL MAKE YOU PAY!

YOU, the financial and political élites, we’ll make YOU pay for your crisis.

The economic and moral collapse of capitalism is for all to see. But it’s us who’s paying for the crisis with our money and jobs. They’re robbing us blind! States are throwing trillions at bankers, while jobs, wages, incomes, services are savagely cut, and millions are thrown into poverty.

We can fight and reverse this process. The Great Recession, the biggest crisis of capitalism in 80 years, opens up opportunities for social conflict and radical transformation.

We the Precarious, We the Unemployed, We the Immigrants, We the Antiracist, We the Antiauthoritarians, we are already fighting together from Athens to Reykjavik, from Capetown to Gaza, from Los Angeles to Buenos Aires, to Tokyo, from Shanghai to Mumbai, and across all seas and states where migrants risk their lives and freedom, in all the cities where dissident and discriminated people are fighting for social equality, autonomous culture, a better life.

Let’s unite in an ideal world brotherhood all our actions and demonstrations on the 1st of may in all the cities large and small around the globe. Let’s make our states and corporations know that at least on that day we are ONE against their capitalist crisis that threatens us all.

Let’s make’em pay on the 1st of May, and in London (vs G20) and Strasbourg (vs NATO) in the coming weeks.

MAYDAY: make’em pay…

convert this post to pdf.

Anti Massa : Metode Organisasi Untuk Kolektif


Perbedaan Antara Massa dan Kelas

Mengapa sangat penting untuk mengenali perbedaan antara massa dan kelas? Apa yang dapat terjadi ketika kita tak mampu membedakan keduanya? Jika kita tak mampu membedakannya, maka tak akan ada satu pun praktik revolusioner yang memiliki kesadaran. Kami bukannya sedang bermain kata-kata. Lihat. Kita hidup di dalam masyarakat massa. Dan semua itu tidak terjadi dengan sendirinya. Massa adalah sebuah bentuk organisasi yang spesifik. Alasannya jelas. Konsumsi diorganisir oleh korporasi. Produk yang mereka hasilkan mendefinisikan massa. Massa bukannya sebuah klise—“massa”— tapi suatu rutinitas yang mendominasi keseharianmu. Memahami struktur pasar massa merupakan satu langkah ke depan untuk dapat memahami apa yang terjadi pada perjuangan kelas.
Apakah massa itu? Banyak orang menganggap massa sebagai jumlah—seperti halnya jalanan dan stadion yang ramai. Tapi struktur yang membentuknyalah yang justru menentukan sifatnya. Massa adalah tumpukan orang-orang yang terpisah, tercerabut, dan tak dikenal. Massa hidup di kota-kota yang secara fisik dekat namun secara sosial terpisah. Kehidupan mereka terprivatisasi dan rusak. Coca-cola dan kesepian. Eksistensi sosial massa—aturan-aturan dan regulasinya, strukturisasi status, dan kepemimpinannya— diorganisasikan melalui konsumsi (pasar massa). Mereka semua merupakan produk dari sebuah organisasi sosial yang khusus, yaitu masyarakat kita.